Situasi Menulis Karya Ilmiah
Dalam menulis ilmiah, penulis berada dalam situasi formal ilmiah. Tujuan penulisan ilmiah ini adalah menyampaikan hasil pemikiran logis dan pengkajian empiris dengan prinsip logiko-hipotetiko-verifikatif. Isi/subjek/topik yang disampaikan berupa kebenaran ilmiah, pengetahuan, pemahaman, penjelasan, peramalan, dan penerapan. Lingkungan tempat menulis ilmiah adalah lingkungan masyarakat akademik.
Pembaca tulisan ilmiah adalah ilmuwan.

Tahapan Penulisan Ilmiah
1. Tahap Pemilihan Topik atau Pokok Bahasan
2. Tahap Pengumpulan Informasi dan Bahan
3. Tahap Evaluasi Informasi dan Bahan
4. Tahap Pengelolaan Pokok-pokok Pikiran
5. Tahap Penulisan
6. Tahap Penyuntingan
Keterampilan yang diperlukan dalam menulis ilmiah
1. Keterampilan bahasa (ejaan, pilihan dan bentikan kata, kalimat, paragraf)
2. Keterampilan penyajian (sistematika penyajian judul, subjudul, sub-subjudul)
3. Keterampilan perwajahan (format, ukuran kertas, jenis kertas, tipe huruf, penjilidan, bibliografi, apendiks, lampiran)
Hal penting dalam penulisan ilmiah:
1. Gaya penulisan dalam membuat pernyataan ilmiah harus jelas dan tepat dalam penyampaian pesan yang bersifat reproduktif dan impersonal.
2. Teknik notasi dalam menyebutkan sumber dari pengetahuan ilmiah yang dipergunakan dalam penulisan
3. Penulisan ilmiah harus menggunakan bahasa yang baik dan benar.
4. Karena bersifat reproduktif, penerima pesan harus mendapat kopi yang sama dengan si pemberi pesan.
5. Karena bersifat impersonal, tulisan ilmiah tidak boleh menggunakan pernyataan yang menggunakan kata ganti penulisnya.
6. Dalam tulisan ilmiah, sering digunakan kalimat pasif.
7. Pembahasan secara ilmiah mengharuskan kita berpaling kepada pengetahuan-pengetahuan ilmiah sebagai premis argumentasi (sumber kutipan).
8. Teknik notasi ilmiah dapat menggunakan catatan kaki, tapi lebih disarankan menggunakan teknik kutipan dan umber rujukan.
Kecenderungan sikap ilmiah
1. Keinginan mengetahui dan memahami
2. Kecondongan bertanya semua hal
3. Kecondongan mencari data dan makna
4. Kecondongan menuntut pengujian empiris
5. Penerapan logika
6. Kecermatan dalam memeriksa pakal pikir
Ciri Tulisan Ilmiah
1. Empiris: informasi yang disampaikan bersifat faktual yang diperoleh berdasarkan hasil pengamatan, kajian pustaka, penelitian.
2. Sistematis: adanya keteraturan, keterkaitan, dan ketergantungan antarbagian
3. Objektif: bebas dari prasangkan perorangan/pribadi
4. Analitis: berusaha membeda-bedakan pokok soalnya ke dalam bagian yang lebih rinci.
5. Verifikatif: mengandung kebenaran ilmiah yang dapat diuji
Sumber kesesatan dalam berpikir ilmiah
1. Penggunaan istilah yang tidak tepat dapat menimbulkan kesalahan penafsiran
2. Hal yang tidak relevan dicantumkan dalam karya tulis, misalnya mencantumkan perasaan pribadi, sehingga tidak berpusat pada apa yang dipikir tapi pada siapa yang diajak berpikir.
3. Apa yang ada dalam kausalitas logis, belum tentu ada dalam kausalitas empiris.
4. Penggunaan definisi sebagai pangkal pikir yang salah.
5. Penghindaran dari sumber kutipan yang menantang gagasannya, sehingga tidak mau menerimanya (Kaum pragmatis tidak mau memperhatikan pandangan kaum analis yang kompleks)
Membangun Penerimaan, Penghargaan, dan Kepercayaan Pembaca
Anjuran:
1. Lakukan penelitian/pengamatan untuk mencari bukti penunjang yang mendukung topik tulisan
2. Tunjukkan adanya kematangan berpikir
3. Bersikaplah sadar akan adanya perbedaan pendapat/ pandangan dari orang lain terhadap topik tulisannya
4. Gunakan nada positif dan menghindari keragu-raguan
5. Berasumsilah bahwa pembaca itu pandai
Larangan:
1. Jangan membuat pembaca bosan
2. Jangan memberikan informasi yang tidak perlu
3. Jangan membuat bingung pembaca
4. Jangan menyerang pembaca yang tidak sependapat
5. Jangan mengecewakan pembaca
6. Jangan menggunakan nada yang bersifat apologi terhadap hal yang ditulisnya
7. Jangan menyampaikan masalah/kasus dengan pernyataan yang berlebihan
8. Jangan menggunakan bahasa yang ekstrim dan emosional
Komponen Menulis dapat Berubah
1. Topik tulisan dari situasi yang satu ke situasi yang lain beragam
2. Dalam situasi yang berbeda, topik yang sama dapat ditulis secara berbeda
3. Ketika menulis, fokus tulisan sering berubah
4. Tujuan menulis banyak dipengaruhi oleh pengetahuan dan sikap penulis terhadap topik yang ditulis
5. Pembaca memiliki minat, latar belakang, dan alasan yang berbeda dalam membaca teks yang sama
6. Sikap penulis terhadap pembaca sering mengalami perubahan
7. Lingkungan/situasi/tempat menulis banyak mengalami perubahan dari waktu ke waktu
Karakteristik Tulisan yang Baik
1. Mengomunikasikan maksud, pikiran, pendapat, dan perasaan secara efektif dan efisien kepada pembaca
2. Signifikan atau Bermakna: menyampaikan informasi yang belum diketahui pembaca, menghibur dengan memberikan informasi yang menarik, dan memotivasi pembaca untuk berpikir/bertindak lebih lanjut
3. Jelas: (menggunakan struktur kalimat efektif, memilih kata yang beracuan konkret, bukan acuan abstrak, menghindari jargon yang tidak umum, dan menyampaikan isi dengan bahasa yang sesuai dengan kondisi pembaca
4. Utuh atau Lengkap: semua gagasan dalam paragraf mendukung topik utama, setiap gagasan penjelas mengembangkan topik utama, dan tidak ada gagasan yang sumbang.
5. Hemat/Efisien: tidak ada kata-kata yang mubazir
6. Kaidah Bahasanya Berterima
7. Memiliki Kekuatan/Energi, yakni menggunakan istilah/kata-kata yang tegas
Macam-macam Karya Ilmiah
1. Artikel ilmiah: karya tulis yang dirancang untuk dimuat di jurnal atau buku kumpulan artikel, ditulis dengan tatacara ilmiah, dan disesuai dengan konvensi ilmiah yang berlaku. Artikel dapat dipilah menjadi dua (a) artikel hasil penelitian, dan (b) artikel nonpenelitian.
2. Makalah ilmiah: karya tulis yang memuat hasil pemikiran tentang masalah, disusun secara sistematis dan runtut, dan disertai analisis yang logis dan objektif. Makalah dibedakan menjadi dua (a) makalah teknis, dan (b) makalah nonteknis
3. Laporan Penelitian: karya tulis yang berisi paparan proses dan hasil penelitian
Ini bukan karya ilmiah
1. Rangkuman dari sebuah artikel
2. Pengulangan gagasan orang lain dengan tidak kritis
3. Kumpulan dari kutipan
4. Pendapat pribadi yang tidak substansial
5. Pengutipan pendapat orang lain tanpa penyebutan sumber pengambilan
Komponen –komponen Menulis
1. Topik/Subjek/Hal yang akan ditulis
2. Pembaca/Audien
3. Tujuan Menulis: menyampaikan informasi, meyakinkan pembaca, mengajak pembaca, menghibur pembaca.
4. Lingkungan/Situasi/Tempat Menulis: fasilitas yang tersedia, kondisi fisik, waktu yang tersedia, situasi politik, masalah budaya, bahasa yang digunakan.


Read More......

PENALARAN DEDUKTIF
Penalaran yang bertolak dari sebuah konklusi/kesimpulan yang didapat dari satu atau lebih pernyataan yang lebih umum.
Dalam penalaran deduktif terdapat premis. Yaitu proposisi tempat menarik kesimpulan.
Penarikan kesimpulan secara deduktif dapat dilakukan secara langsung dan tidak langsung.
Penarikan secara langsung ditarik dari satu premis.
Penarikan tidak langsung ditarik dari dua premis.
Premis pertama adalah premis yang bersifat umum sedangkan premis kedua adalah yang bersifat khusus.

Jenis penalaran deduksi yang menarik kesimpulan secara tidak langsung yaitu
a. Silogisme Kategorial;
b. Silogisme Hipotesis;
c. Silogisme Akternatif;
d. Entimen.

a. Silogisme Kategorial : Silogisme yang terjadi dari tiga proposisi.
Premis umum : Premis Mayor (My)
Premis khusus :Premis Minor (Mn)
Premis simpulan : Premis Kesimpulan (K)
Dalam simpulan terdapat subjek dan predikat. Subjek simpulan disebut term mayor, dan predikat simpulan disebut term minor.


Aturan umum dalam silogisme kategorial sebagai
berikut:
1) Silogisme harus terdiri atas tiga term yaitu : term mayor, term minor, term penengah.
2) Silogisme terdiri atas tiga proposisi yaitu premis mayor, premis minor, dan kesimpulan.
3) Dua premis yang negatif tidak dapat menghasilkan simpulan.
4) Bila salah satu premisnya negatif, simpulan pasti negatif.
5) Dari premis yang positif, akan dihasilkan simpulan yang positif.
6) Dari dua premis yang khusus tidak dapat ditarik satu simpulan.
7) Bila premisnya khusus, simpulan akan bersifat khusus.
8) Dari premis mayor khusus dan premis minor negatif tidak dapat ditarik satu simpulan.

Contoh silogisme Kategorial:
 My : Semua mahasiswa adalah lulusan SLTA
Mn : Badu adalah mahasiswa
K : Badu lulusan SLTA
 My : Tidak ada manusia yang kekal
Mn : Soni adalah manusia
K : Soni tidak kekal
 My : Semua mahasiswa memiliki ijazah SLTA.
Mn : Amir tidak memiliki ijazah SLTA
K : Amir bukan mahasiswa

b. Silogisme Hipotesis: Silogisme yang terdiri atas premis mayor yang berproposisi konditional hipotesis.
Konditional hipotesis yaitu : bila premis minornya membenarkan anteseden, simpulannya membenarkan konsekuen. Bila minornya menolak anteseden, simpulannya juga menolak konsekuen.
Contoh :
o My : Jika tidak ada air, manusia akan kehausan.
Mn : Air tidak ada.
K : Jadi, Manusia akan kehausan.
o My : Jika tidak ada udara, makhluk hidup akan mati.
Mn : Makhluk hidup itu mati.
K : Makhluk hidup itu tidak mendapat udara.

c. Silogisme Alternatif : Silogisme yang terdiri atas premis mayor berupa proposisi alternatif.
Proposisi alternatif yaitu bila premis minornya membenarkan salah satu alternatifnya. Simpulannya akan menolak alternatif yang lain.
Contoh
My : Nenek Sumi berada di Bandung atau Bogor.
Mn : Nenek Sumi berada di Bandung.
K : Jadi, Nenek Sumi tidak berada di Bogor.
My : Nenek Sumi berada di Bandung atau Bogor.
Mn : Nenek Sumi tidak berada di Bogor.
K : Jadi, Nenek Sumi berada di Bandung.


d. Entimen
Silogisme ini jarang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam tulisan maupun lisan. Yang dikemukakan hanya premis minor dan simpulan.
Contoh entimen:
1) Dia menerima hadiah pertama karena dia telah menang dalam sayembara itu.
Anda telah memenangkan sayembara ini, karena itu Anda berhak menerima hadiahnya.

PENALARAN INDUKTIF
Penalaran yang bertolak dari penyataan-pernyataan yang khusus dan menghasilkan simpulan yang umum.
Bentuk-bentuk Penalaran Induktif
a. Generalisasi : Proses penalaran yang mengandalkan beberapa pernyataan yang mempunyai sifat tertentu untuk mendapatkan simpulan yang bersifat umum.
Contoh generalisasi :
1) Jika dipanaskan, besi memuai.
Jika dipanaskan, tembaga memuai.
Jika dipanaskan, emas memuai.
Jika dipanaskan, platina memuai
Jadi, jika dipanaskan, logam memuai.
2) Jika ada udara, manusia akan hidup.
Jika ada udara, hewan akan hidup.
Jika ada udara, tumbuhan akan hidup.
Jadi, jika ada udara mahkluk hidup akan hidup.
b) Analogi : Cara penarikan penalaran dengan membandingkan dua hal yang mempunyai sifat yang sama.
Contoh analogi
Nina adalah lulusan Akademi Amanah.
Nina dapat menjalankan tugasnya dengan baik.
Ali adalah lulusan Akademi Amanah.
Oleh Sebab itu, Ali dapat menjalankan tugasnya dengan baik.
c. Hubungan kausal : penalaran yang diperoleh dari gejala-gejala yang saling berhubungan.
Macam hubungan kausal :
1) Sebab- akibat.
Hujan turun di daerah itu mengakibatkan timbulnya banjir.
2) Akibat – Sebab.
Andika tidak lulus dalam ujian kali ini disebabkan dia tidak belajar dengan baik.
3) Akibat – Akibat.
Ibu mendapatkan jalanan di depan rumah becek, sehingga ibu beranggapan jemuran di rumah basah.


Read More......

Fakta atau data yang akan dinalar itu boleh benar dan boleh tidak benar. Kalimat pernyataan yang dapat dipergunakan sebagai data itu disebut Proposisi.
Proposisi berbentuk kalimat berita
netral.
Kalimat tanya, kalimat perintah, kalimat harapan, dan kalimat inversi tidak disebut proposisi.

Contoh proposisi :
1. Burung adalah unggas
Proposisi dapat dibedakan berdasarkan
a. Jenis
b. Kriteria
Berdasarkan jenis dibedakan dengan lingkaran yang disebut lingkaran Euler.
1. Suatu perangkat yang tercakup dalam subjek sama dengan perangkat yang terdapat dalam predikat.
Semua S adalah semua P
Semua sakit adalah semua tidak sehat.
2. Suatu perangkat yang tercakup dalam subjek menjadi bagian dari perangkat predikat.
Semua S adalah P
Semua pesawat terbang.
Sebaliknya, suatu perangkat predikat merupakan bagian dari peringkat subjek
Sebagian S adalah P
Sebagian buah adalah apel
3. Suatu perangkat yang tercakup dalam subjek berada diluar perangkat predikat. Dengan kata lain, antara subjek dan predikat tidak terdapat relasi.
Tidak satu pun S adalah P
Tidak seorang pun manusia adalah binatang
4. Sebagian perangkat yang tercakup dalam subjek berada di luar perangkat predikat.
Sebagian S tidaklah P
Sebagian air tidaklah jernih
Jenis proposisi berdasarkan kriteria:
1. Berdasarkan bentuk : proposisi tunggal dan proposisi majemuk;
2. Berdasarkan sifatnya : proposisi kategorial dan proposisi kondisional;
3. Berdasarkan kualitas : proposisi posititif (afirmatif) dan proposisi negatif;
4. Berdasarkan kuantitas : proposisi umum (universal) dan proposisi khusus (partikular).
Bentuk-bentuk proposisi
Berdasarkan dua jenis proposisi, yaitu berdasarkan kualitas dan kuantitas didapat empat macam proposisi, yaitu
1) Proposisi umum-positif – proposisi A
2) Proposisi umum-negatif – proposisi E
3) Proposisi khusus-positif – proposisi I
4) Proposisi khusus-negatif – proposisi O


Read More......

Penalaran adalah proses berpikir yang bertolak dari pengamatan indera (observasi empirik) yang menghasilkan sejumlah konsep dan pengertian. Berdasarkan pengamatan yang sejenis juga akan terbentuk proposisi – proposisi yang sejenis, berdasarkan sejumlah proposisi yang diketahui atau dianggap benar, orang menyimpulkan sebuah proposisi baru yang sebelumnya tidak diketahui. Proses inilah yang disebut menalar.
Dalam penalaran, proposisi yang dijadikan dasar penyimpulan disebut dengan premis (antesedens) dan hasil kesimpulannya disebut dengan konklusi (consequence).Hubungan antara premis dan konklusi disebut konsekuensi.


Konsep dan simbol dalam penalaran

Penalaran juga merupakan aktifitas pikiran yang abstrak, untuk mewujudkannya diperlukan simbol. Simbol atau lambang yang digunakan dalam penalaran berbentuk bahasa, sehingga wujud penalaran akan akan berupa argumen.

Kesimpulannya adalah pernyataan atau konsep adalah abstrak dengan simbol berupa kata, sedangkan untuk proposisi simbol yang digunakan adalah kalimat (kalimat berita) dan penalaran menggunakan simbol berupa argumen. Argumenlah yang dapat menentukan kebenaran konklusi dari premis.

Berdasarkan paparan di atas jelas bahwa tiga bentuk pemikiran manusia adalah aktivitas berpikir yang saling berkait. Tidak ada ada proposisi tanpa pengertian dan tidak akan ada penalaran tanpa proposisi. Bersama – sama dengan terbentuknya pengertian perluasannya akan terbentuk pula proposisi dan dari proposisi akan digunakan sebagai premis bagi penalaran. Atau dapat juga dikatakan untuk menalar dibutuhkan proposisi sedangkan proposisi merupakan hasil dari rangkaian pengertian.

Syarat-syarat kebenaran dalam penalaran

Jika seseorang melakukan penalaran, maksudnya tentu adalah untuk menemukan kebenaran. Kebenaran dapat dicapai jika syarat – syarat dalam menalar dapat dipenuhi.
• Suatu penalaran bertolak dari pengetahuan yang sudah dimiliki seseorang akan sesuatu yang memang benar atau sesuatu yang memang salah.
• Dalam penalaran, pengetahuan yang dijadikan dasar konklusi adalah premis. Jadi semua premis harus benar. Benar di sini harus meliputi sesuatu yang benar secara formal maupun material. Formal berarti penalaran memiliki bentuk yang tepat, diturunkan dari aturan – aturan berpikir yang tepat sedangkan material berarti isi atau bahan yang dijadikan sebagai premis tepat.

sumber: wikipedia

Read More......




Judul Film : Blood Diamond (2007)
Genre : Drama/Action/Thriller
Sutradara : Edward Zwick
Skenario : Charles Leavitt, Charlie Mitchell
Produksi : Warner Bros. Pictures International
Durasi : 124 min.
Pemain : Leonardo Dicaprio, Djimon Hounsou, Jennifer Connelly, Arnold Vosloo.
Rilis di Indonesia : 19 Januari 2007




Blood Diamond berlatar belakang kisah nyata tentang konflik yang terjadi di benua Afrika, khususnya yang terjadi di negara Sierra Leone. Negara-negara besar pun bersepakat untuk tak memanfaatkan kekayaan apapun dari wilayah konflik. Namun, tetap saja berlian selundupan yang berasal dari Afrika terus saja berjalan. Hingga akhirnya orang rela berkorban nyawa demi mendapatkan berlian.


Sekelompok pemberontak yang menamakan dirinya Revolutionary United Front (
RUF) membelot dari misi pemerintah dan menciptakan perang di kotanya sendiri, Sierra Leone (Afrika). Mereka menambang banyak berlian untuk kemudian digunakan membeli senjata. Tindakan RUF yang semena-mena membunuhi warga Sierra Leone membuat Solomon Vandy [Djimon Hounsou] harus terpisah dari istri dan ketiga anaknya. Lolos dari maut, Solomon malah dipaksa bekerja sebagai budak di tambang berlian untuk para pemberontak tersebut.

Disinilah kemujuran sekaligus kesialan menimpa Solomon. Beruntung ia menemukan berlian berwarna merah muda yang berukuran lebih besar dari lainnya. Namun sayang, ketika hendak menyelundupkannya, Solomon ketahuan bos besar RUF. Walau dihadang bahaya, Solomon berhasil menyimpan berlian itu untuk dirinya sendiri. Ia menguburkan berlian tersebut di tepi sungai Kono. Nasiblah yang akhirnya, membawa Solomon ke penjara dan disanalah, ia bertemu dengan Danny Archer [
Leonardo Dicaprio].

Archer sendiri, adalah seorang mantan prajurit asal Rhodesia yang bekerja sebagai tentara bayaran dengan komandannya, Kolonel Coetzee [
Arnold Vosloo]. Agar bisa terbebas dari belenggu si Kolonel, Archer berusaha menemukan berlian itu. Ia meminta petunjuk keberadaan berlian dari Solomon dan memberi imbalan keluarga Solomon sebagai gantinya.

Awalnya, Archer adalah orang yang tak pernah bermain-main dengan perasaan. Kehilangan orang tua dengan cara yang sadis membuatnya tak lagi peka akan air mata. Begitu pula, saat ia bertemu dengan Maddy [
Jennifer Connelly]. Maddy yang juga seorang wartawati menjadikan Archer sebagai sumber beritanya yang tahu banyak tentang perdagangan ilegal berlian yang dilakukan pengusaha besar Van Der Kaap.

Sementara itu, Archer memanfaatkan Solomon untuk memperoleh berlian itu. Namun, hal tak semudah perkiraannya. Solomon dan Archer harus melewati daerah konflik dan berurusan dengan darah. Mau tak mau mereka harus membunuh.

Pimpinan pemberontak RUF yang gagal mendapatkan berlian Solomon membalas dendam lewat putra sulung Solomon, Dia. Dalam usahanya mendapatkan kembali berlian yang hilang inilah Solomon pun bertemu kembali dengan Dia yang telah jadi anak buah RUF. Dia kini, adalah seorang bocah pembunuh.

Adegan sadis pembunuhan banyak diperlihatkan dalam Blood Diamond. Warga sipil yang tak bersalah menjadi korban konflik yang tak berkesudahan. Belum lagi penderitaan orang tua hingga balita yang harus terluka fisik dan batin akibat konflik. Bagi Anda yang tidak suka melihat banyak darah, bersiaplah meringis pilu saat menonton Blood Diamond. Berbagai aksi tembak-tembakan dan pembunuhan pun tak dapat terelakkan di film ini.

Read More......

MELUASNYA HACKER

Menurut saya, perkembangan hacker semakin lama semakin meluas. Itu disebabkan karena semakin meningkatnya kemajuan teknologi dan juga dikarenakan faktornya ekonomi ada juga yang hanya sekedar iseng. Dari berbagai Negara banyak sekali para hacker yang jumlahnya tak bisa di hitung. Kalau para hacker berkumpul, bisa – bisa mereka menguasai bumi.
Di Indonesia sudah banyak hacker yang sudah berhasil membobol server dari suatu web, server game, bahkan sudah ada yang bisa membobol ATM. Dengan menggunakan nomor rekening yang tidak dikenalnya, mereka bisa pakai sepuasnya. Sebenarnya keberadaan hacker bisa menguntungkan tapi juga bisa menjadi kejelekan untuk negaranya sendiri.
Seharusnya para hacker berkumpul untuk membuat negaranya maju bukan malah membuat rugi negaranya. Walaupun sudah banyak hacker yang bekerja untuk polisi untuk memberantas hacker - hacker yang merugikan Negara tersebut. Tetapi tetap saja masih banyak hacker – hacker jahat daripada yang bekerja untuk polisi. Polisi menjadi kekurangan tenaga untuk menangkap mereka. Maka hanya beberapa orang saja yang bisa di tangkap.
Untuk mengatasi masalah hacker, polisi hanya bisa diam saja. Hanya menunggu orang – orang tersebut tobat. Walaupun begitu, hacker – hacker di Indonesia juga bisa bersatu saat negaranya dalam kesulitan. Seperti saat Malaysia mengklaim Negara Indonesia. Banyak hacker – hacker Indonesia menjadi satu untuk menjebol web server Malaysia. Sudah puluhan yang sudah mereka bobol. Dan itu di lakukan demi negaranya.
Memang keberadaan hacker sangat di butuhkan, dan juga kadang bisa membuat takut. Itu semua tergantung dari para hacker tersebut memilih jalannya. Tetapi setiap manusia bisa berubah, untuk menjadi yang lebih baik.

Read More......


Judul: 7 Dosa Besar (Penggunaan) Powerpoint Kiat Menyajikan Presentasi Yang Menarik
Pengarang: Isman H. Suryaman
Rilis: 2007
Halaman: 127p
Penerbit: Gramedia
Harga: Rp. 33.000,-











Ruang rapat yang gelap. Slide dengan poin berjejer-jejer. Huruf-huruf yang terlalu kecil, atau terlalu gelap, atau yang berlatar belakang terlalu terang. Teks dan gambar yang berputar-putar. Musik yang mengganggu, atau bahkan mencuci otak. Presentasi menjadi peperangan antara penyaji yang tidak kompeten melawan hadirin yang ingin kabur. Semua orang yang kehidupannya bersinggungan dengan dunia bisnis kemungkinan besar pernah mengalami peristiwa serupa di atas.Para pembaca 7 Dosa Besar (penggunaan) Powerpoint Kiat Menyajikan Presentasi Yang Menarik kemungkinan besar adalah korban-korban PowerPoint yang berhasil selamat. Namun, buku ini juga diperuntukkan bagi mereka yang belum sadar bahwa presentasi mereka justru menyulitkan orang lain untuk mengerti. Juga untuk para pembicara yang ingin mengetahui lebih dalam tentang penyusunan materi presentasi yang efektif. Dosa-dosa besar yang dibahas dalam buku ini tidak eksklusif pada PowerPoint. Orang bisa saja menggunakan program Keynote (pada Mac) atau Open Office dan melakukan hal yang sama. Fokus kepada PowerPoint dipilih karena penggunaan aplikasi ini yang mendunia. Saking globalnya, bahkan ada berbagai kasus internasional akibat penyalahgunaan PowerPoint.Sebagian besar contoh yang dikemukakan dalam presentasi ini memang berada dalam ranah teknologi informasi, namun pesannya universal: presentasi adalah kombinasi antara seni (art) dan keahlian (craft) menyangkut komunikasi ide dari seseorang ke orang lain. Microsoft PowerPoint, (PPT), yang dikembangkan sebagai alat bantu presentasi, justru malah membuat banyak orang salah kaprah tentang presentasi.Dalam bukunya, Isman H. Suryaman membahas tentang penggunaan PPT yang mendekati definisi presentasi di atas. Alih-alih membahas teori atau teknik presentasi dari awal, buku ini menunjukkan kesalahpenggunaan PPT atau ”Dosa Besar”. Kemudian memberitahukan cara mengatasi dan menghindari dosa besar tersebut. Dengan begitu, pembaca dapat menyerap dan menerapkan informasi dari buku ini dengan lebih mudah dan praktis.

Read More......

About this blog



My Art.....

Labels

::Followers::

Comment


ShoutMix chat widget

Lencana Facebook